Wednesday, January 21, 2026
HomeKejadian120 Hektare Sawah di Ciranjang Cianjur Gagal Panen, Hama dan Penyakit Menyerang

120 Hektare Sawah di Ciranjang Cianjur Gagal Panen, Hama dan Penyakit Menyerang

KABARJABAR.net – Kerugian besar dialami ratusan petani di Kecamatan Ciranjang setelah ratusan hektare tanaman padi tak bisa dipanen akibat serangan hama dan penyakit tanaman. Kondisi ini mendorong Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur turun langsung melakukan pendataan dan penelusuran penyebab gagal panen.

Kepala DTPHPKP Cianjur Ahmad Danial mengatakan pihaknya telah mengerahkan penyuluh pertanian serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk bergerak ke lapangan. Pendataan dilakukan guna memastikan luas lahan terdampak serta mengecek kepesertaan asuransi petani.

“Ketika sudah mendapatkan data pasti luas lahan yang terserang hama hingga gagal panen, serta memastikan berapa banyak petani yang ikut asuransi atau tidak, baru kami tangani termasuk mencarikan solusi,” ujar Ahmad Danial di Cianjur, Senin.

Ia menegaskan pendampingan kepada petani sebenarnya rutin dilakukan, terutama untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit tanaman. Namun evaluasi menyeluruh tetap diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kami segera lakukan evaluasi bersama petugas, penyuluh, dan petani. Evaluasi tidak hanya difokuskan di satu wilayah, tapi mulai dari utara hingga selatan Cianjur,” katanya.

Berdasarkan laporan lapangan, sekitar 120 hektare sawah di Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, mengalami gagal panen total atau fuso. Serangan penyakit tanaman dan ribuan hama burung pipit sudah terjadi sejak tanaman padi berusia sekitar 45 hari.

Salah seorang petani, Teten (51), warga Kampung Pasirangin, Desa Nanggalamekar, mengungkapkan biasanya satu hektare sawah mampu menghasilkan tujuh hingga delapan ton gabah. Namun serangan hama membuat sebagian besar tanaman padinya mati.

“Sudah disemprot pestisida, pakai bahan pengusir hama, sampai pasang jaring di atas tanaman. Tapi burung pipit datangnya banyak sekali, ditambah hama lain, akhirnya gagal panen,” katanya.

Kepala Desa Nanggalamekar, Hilman, menyebut gagal panen terjadi hampir merata akibat hama pengerat dan burung. Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah pola tanam yang tidak dilakukan secara serempak.

“Pola tanam tidak serempak membuat siklus hama tidak terputus dan terus berulang. Seharusnya penanaman dilakukan bersama-sama agar hama bisa dikendalikan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat memberikan solusi konkret serta bantuan bagi petani agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di musim tanam berikutnya.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments