Friday, April 3, 2026
HomeOpiniPengeroyokan Guru; Alarm Keras Krisis Akhlak Generasi Bangsa

Pengeroyokan Guru; Alarm Keras Krisis Akhlak Generasi Bangsa

Penulis : Imam Syafei (Presidium KAHMI Kabupaten Bandung}

KABARJABAR.NET – ARTIKEL : Baru-baru ini publik dihebohkan dengan pemberitaan pengeroyokan guru oleh sejumlah muridnya di Jambi. Agus Saputra, guru mata pelajaran Bahasa Inggris SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung, Jambi, dikeroyok oleh sejumlah muridnya.

Kejadian ini bukan yang pertama terjadi di lingkungan pendidikan. Kasus serupa pernah terjadi di berbagai daerah seperti Surabaya, Bandung dan daerah lain, di mana guru menjadi korban kekerasan fisik dari murid-muridnya sendiri. Insiden ini bukan sekadar konflik sekolah biasa, melainkan gejala parah dari krisis akhlak yang merusak hubungan antara guru dan murid, mengingat keduanya adalah pilar utama dalam pendidikan bangsa.

Krisis ini mencerminkan degradasi nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi pondasi masyarakat Indonesia. Tradisi kita mengenal guru sebagai orang tua kedua yang mesti dihormati. Namun, realitas hari ini justru terbalik di mana murid tak lagi melihat guru sebagai panutan, melainkan sebagai musuh yang bisa dihajar bareng-bareng sesuka hati.

Pengeroyokan itu sendiri adalah puncak gunung es dari perilaku tidak hormat yang sudah merajalela, mulai dari panggilan kasar seperti “bangsat” atau “anjing” di kelas, hingga penolakan terbuka terhadap nasihat guru. Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan peningkatan 30% kasus kekerasan di lingkungan sekolah sejak 2020, dengan guru sebagai korban utama. Ini menandakan bahwa akhlak mulia sudah mulai luntur di kalangan generasi bangsa.

Salah satu akar masalahnya adalah pengaruh lingkungan keluarga yang kian longgar. Banyak orang tua sibuk bekerja, meninggalkan anak-anak di bawah pengawasan gadget dan media sosial. Anak-anak tumbuh dengan meniru konten kekerasan di TikTok atau YouTube, di mana influencer muda kerap memamerkan aksi brutal sebagai bentuk keberanian.

Peran sekolah sendiri tak lepas dari tanggung jawab. Banyak lembaga pendidikan lebih fokus pada prestasi akademik dan ujian nasional daripada pembentukan karakter. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sering dijadikan formalitas, tanpa diskusi mendalam tentang etika guru-murid. Di sisi lain, guru menghadapi beban berat seperti gaji minim, kelas overcrowded, dan tekanan kinerja.

Akibatnya, interaksi guru-murid sering tegang, memicu konflik kecil yang meledak menjadi kekerasan. Krisis akhlak ini juga terlihat dari minimnya dialog antarpihak; guru merasa sendirian, murid merasa tertindas, dan sekolah diam saja demi menjaga citra.

Dampak dari krisis ini luar biasa merusak. Bagi guru, trauma fisik dan psikis membuat mereka enggan mengajar, bahkan memilih pensiun dini. Survei Asosiasi Guru Indonesia mencatat 40% guru mengalami depresi akibat ancaman murid. Bagi murid pelaku, meski ditangkap polisi, masa depan mereka hancur. Lebih luas lagi, masyarakat kehilangan generasi yang menghormati otoritas.

Tentu saja, krisis akhlak ini melemahkan fondasi bangsa, karena pendidikan bukan hanya sekadar soal ijazah, tapi pembentukan manusia yang berakhlak mulia. Jika dibiarkan, pengeroyokan seperti ini akan terus berulang yang justru merusak masa depan bangsa Indonesia.

Solusi

Persoalan pengeroyokan guru oleh siswa perlu dicarikan solusi sesegara mungkin agar dampak yang ditimbulkan tidak meluas. Salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah revolusi akhlak: kurikulum wajib etika guru-murid, konseling rutin, dan hukuman restoratif yang melibatkan orang tua. Negara Jepang bisa dijadikan contoh di mana siswa membersihkan sekolah bersama guru, sehingga terjalin rasa hormat melalui kerja sama.

Orang tua juga perlu menanamkan pendidikan akhlak sejak dini agar anak tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulai sejak dini. Itu artinya, orang tua jangan menyerahkan sepenuhnya pengasuhan anak ke lembaga pendidikan. Sekolah sifatnya hanya membantu orang tua di mana waktunya juga terbatas. Jadi, orang tua wajib memaksimalkan perannya di rumah untuk mendidik dan membimbing anak agar tidak mudah terbawa arus kemajuan teknologi informasi.

Di samping itu, guru harus kembali menjadi pahlawan, bukan sasaran tinju. Murid harus diajarkan bahwa hormat bukan kelemahan, tapi kekuatan. Masyarakat perlu sadar bahwa pengeroyokan guru adalah cermin kegagalan kolektif kita dalam menjaga akhlak. Saatnya seluruh komponen bangsa bertindak untuk memperbaiki ini semua, sebelum sekolah menjadi arena konflik antara guru dan murid.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments