KABARJABAT.net – Aktivitas pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, mengalami kelumpuhan akibat krisis bahan bakar minyak (BBM) industri. Dampaknya, puluhan alat berat yang biasa menata tumpukan sampah tidak dapat beroperasi.
Kondisi tersebut memicu antrean panjang truk pengangkut sampah di sepanjang akses masuk hingga area parkir TPA. Banyak armada tertahan dengan muatan penuh karena tidak bisa mencapai titik pembuangan.
Kepala UPTD TPA Burangkeng Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Samsuro, mengatakan situasi seperti ini baru pertama kali terjadi.
“Situasi seperti ini baru kali ini terjadi, alasannya karena operator kesulitan mendapatkan pasokan BBM industri,” ujar Samsuro di lokasi, Jumat (24/4).
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, pasokan solar industri biasanya langsung dikirim setelah pemesanan dilakukan. Namun kini distribusi mengalami keterlambatan bahkan belum datang selama beberapa hari.
TPA Burangkeng memiliki 22 unit alat berat yang masing-masing membutuhkan sekitar 150 liter solar per hari. Total kebutuhan operasional mencapai 3.000 liter setiap hari.
Seluruh alat berat yang disewa dari pihak ketiga kini berhenti total, meski pengadaan BBM sebenarnya termasuk dalam skema kerja sama.
Menurut Samsuro, lonjakan harga energi global diduga menjadi pemicu sulitnya pasokan. Harga solar industri yang sebelumnya berkisar Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter kini melonjak hingga Rp35.000 per liter.
Pihak pengelola alat berat bahkan telah mengajukan penyesuaian kontrak kerja akibat kenaikan harga tersebut.
Meski dampak ke masyarakat belum terasa besar, ancaman gangguan layanan pengangkutan sampah diperkirakan muncul dalam beberapa hari ke depan apabila pasokan BBM belum kembali normal.
“Karena kondisi truk-truk sampah ini masih terjebak di dalam TPA dan tidak bisa kembali ke wilayah tugas masing-masing. Ini yang kami khawatirkan, soal pelayanan,” katanya.***


